JILBAB TAK SEKEDAR HAK
Wine Dwi Mandella. Nama gadis ini mengingatkan pada mantan istri tokoh pejuang diskriminasi rasial di Afrika Selatan. Gadis inipun gigih melawan diskriminasi yang dialaminya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat, Jawa Barat. Bukan diskriminasi rasial, memang, tapi diskriminasi mengenakan pakaian sesuai hati nurani: jilbab.
Apa yang dialami Wine bukan terjadi pada era 1980-an, ketika cengkeraman Islamophobia masih kuat. Wine justru mengalami perlakuan itu pada 2008, ketika Islamophobia telah lama mundur dari pentas; ketika karyawati berjilbab sudah menjadi pemandangan biasa.
Kisah malang yang menimpa Wine terjadi tujuh bulan lalu. Ketika itu, perawat di Bagian Fisioterapi, Departemen Rehab Medik, RS Mitra, ini, masuk kantor mengenakan pakaian dinas yang dilengkapi jilbab dan manset. RS Mitra menganggap gadis berusia 26 tahun ini melanggar peraturan perusahaan pasal 17 ayat 4.2 Wine sempat bersitegang dengan Manager HRD RS Mitra, E Setyodewi. Tapi, Wine mengaku terus ditekan. Wine kemudian dipaksa membuat surat pengunduran diri.
Tapi, Setyorini menilai pernyataan Wine terlalu ekstrem. Wine kemudian diminta membuat surat pengunduran diri tanpa disertai alasan. Wine menolak. Dia meninggalkan tempat itu usai meninggalkan kartu pegawai, kartu HMO (kartu berobat), dan kunci loker yang dirampas.
Selanjutnya, RS Mitra mengirimkan surat beberapa kali ke rumah Wine, diakhiri dengan surat keputusan bahwa Wine dianggap telah mengundurkan diri karena mangkir selama lima hari kerja tanpa keterangan.
Wine menjadi karyawan RS Mitra sejak 2004. Dia mulai mengenakan jilbab pada 2005. Karena RS Mitra melarang perawatnya berjilbab, selama tiga tahun dia hanya mengenakan jilbab saat berangkat dan pulang kerja.
April 2008, Wine menunaikan ibadah umrah bersama keluarga. Saat itulah, Wine mendapatkan ketetapan hati untuk berjilbab dalam segala keadaan. Tapi, baru satu hari mengenakan jilbab, vonis pun jatuh.
Diperlakukan tidak adil, Wine mengontak Tim Pengacara Muslim (TPM). Anggota TPM, Budi Santoso, menilai RS Mitra tidak adil. Kepala Disnaker Kota Bekasi, Agus Darma Suwandi, mengatakan RS Mitra telah menerapkan aturan yang bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan. Dia menilai, Wine telah memenuhi ketentuan berseragam di RS itu, meski ditambah jilbab dan manset.
Kendati merasa mulai enggan kembali bekerja di RS Mitra, dia kini ingin memperjuangkan sesuatu yang melebihi kepentingannya.
Ayah Wine, Ridwan Santoso, mengaku akan terus memerkarakan masalah yang menimpa Wine hingga RS Mitra mengizinkan karyawannya berjilbab.
Sampai pekan lalu, Setyodewi tetap berkeras bahwa Wine-lah yang mengundurkan diri karena tak dapat mematuhi aturan perusahaan. Setyodewi menyatakan Wine akan kembali diterima bekerja di Grup RS Mitra dengan berjilbab.
tELAH dilakukan pertemuan antara Komisi D DPRD, Disnaker, Wine, TPM, dan RS Mitra. Sedianya, pertemuan itu menjadi pertemuan pamungkas. Tapi, kasus ini malah berlanjut ke Pengadilan Hubungan Industrial.
Pengacara RS Mitra, Sonny Martakusuma, mengatakan kasus Wine hanya masalah persepsi. Masalah tersebut bukan sekedar masalah ketenagakerjaan, tapi sudah diskriminasi.
kebutuhan rumah sakit mitra grup, yaitu PT Estetika Interpresindo.
TPM dan Wine menolak tawaran itu. Budi Santoso meminta Wine dipekerjakan kembali sebagai karyawan Bagian Fisioterapi RS Mitra, sesuai keahliannya. Selain itu, TPM juga mengatakan bahwa perilaku diskriminatif masih terjadi jika pemakaian jilbab hanya untuk Wine.
Thorik A Thalib dari TPM menilai persoalan Wine, mau tidak mau, sudah berkembang menjadi persoalan keyakinan bersama yang diganggu. Dia mempertanyakan motif RS Mitra yang terkesan memperpanjang persoalan. Tarik-ulur yang dilakukan RS Mitra tersebut membuat persoalan Wine memang bukan persoalan pribadi lagi. Kini, mulai bermunculan solidaritas membela hak-hak berjilbab. Kemarin, puluhan orang yang mengatasnamakan diri Forum Peduli Jilbab (FPJ), melakukan aksi. Mereka menuntut RS Mitra memperbolehkan tenaga kerja memakai jilbab.
Kadisnaker Bekasi, Agus Darma Suwandi, menyatakan mutasi tidak boleh dilakukan agar karyawan tidak kerasan dan keluar dari perusahaan. Seragam itu ketentuan manusia, sementara jilbab itu bukan sekedar hak, jadi seharusnya RS Mitra memerhatikan hak seluruh pekerjanya!
.jpg)



.jpg)
